Home > Article > Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga

Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga

Setiap kali kita mengisi form entah itu form mau register menjadi nasabah baru, form untuk identitas kita, kartu tanda penduduk, apapun bentuk dan jenis  formnya pasti ada istilah pekerjaan yang menurutku diksi pekerjaan itu sebenarnya bias banget untuk perempuan. Kata aktivis perempuan ndak berperspektif gender kali ya??
Pekerjaan : Ibu rumah tangga.

Kenapa menurutku istilah itu bias banget? Ibu-ibu yang menjadi ibu rumah tangga total yang tidak bekerja diluar rumah, dimana tugasnya mulai dari bangun tidur mencuci, memasak, bersih-bersih, mendidik anak dan melayani suami. Apakah itu tugas yang mudah dan ringan?
Apalagi sepertiku, sejak SMP, SMU, hingga kuliah merupakan orang yang aktif, nggak bisa diam, dan lumayan berprestasi. Bahkan ketika kuliah aku sudah kerja part time, ketika semester 7 dan 8 menjadi peneliti dan asisten dosen di kampus. Semua kegiatanku dinamis dan semakin memperkaya hidupku. By the way aku lulus paling awal dari semua teman sejurusan dan seangkatanku, lulus cumlaude dengan IPK 3.6. Belum lagi hasil risetku yang bejibun untuk mahasiswa seusiaku.

 

Menurut teman-temanku merupakan prestasi yang gemilang. Sebelum kelulusan pun aku menikah, setelah menikah aku mengajar di sebuah universitas swasta. Menginjak 3 bulan usia pernikahanku aku hamil anak pertama. Duuh suamiku waktu itu gembiranya minta ampun!Katanya “dah mau jadi ayah”!Waktu itu aku juga senang…batinku aku jadi perempuan beneran! Tapi juga gelisah lalu bagaimana dengan karirku? Memang sejak awal pernikahan aku dan suami  sudah ada perjanjian kalau sudah punya anak nanti, aku minta suami tetap mendukung karirku yang sudah susah payah kubangun. Suamiku sih kompromi aja!Tapi yang namanya hidup itu tetap misteri Tuhan. Aku sudah belajar banyak dari itu.
Selain mengajar aku juga mesti riset. Dan kalau riset sering bolak-balik keluar kota. Untuk perempuan yang sedang hamil sepertiku hal tersebut rawan untuk kesehatan janinku. Karena begitu bersemangat dengan risetku capai pun sering kuabaikan. Bapak-ibu, mertua, nenekku, semua orang mengingatku bahwa aku mesti hati-hati dan banyak beristirahat. Ternyata Tuhan mengingatkanku dengan cara-Nya. Aku melahirkan putri pertamaku pada masa kehamilan menginjak 7 bulan. Putriku lahir prematur dengan berat hanya 1,8 kg. Tuhaan…berhari-hari kondisi putriku belum stabil karena bayi prematur kondisi kesehatannya masih rawan. Aku sedih banget dan begitu sedih. Putriku harus dirawat sebulan di rumah sakit baru bisa kutimang-timang.
Sementara aku cuti dari pekerjaanku. Kubesarkan putriku dengan penuh perjuangan sehingga tumbuh kembangnya seperti bayi normal. Kebetulan selama 3 bulan pasca kehamilan aku dan suami belum memakai kontrasepsi, istilahnya KB sendiri! Rupanya Tuhan memiliki rencana lain pada hidup kami, ketika putriku berusia 4 bulan aku hamil lagi! Waduh sedihnya minta ampun! Sewaktu aku tahu hamil lagi aku nangis sampai meraung-raung. Putriku masih kecil kenapa hamil lagi!Aku shock banget dan marah pada suamiku. Aku sempat berusaha berkali-kali mengugurkan janinku sampai usia 2 bulan. Tetapi memang Tuhan ingin memberikan amanah padaku.
Suamiku terus memberikan semangat bahwa aku harus bersyukur dengan anugerah ini. Bagi suamiku anak merupakah amanah dan anugerah yang terbesar pada keluarga kami dan aku harus ikhlas seraya mensyukurinya. Menginjak 3 bulan usia kehamilanku yang kedua dalam pemeriksaan dengan dokter kandunganku terlihat di USG ternyata janinku kembar! Tuhaan… aku cemas sekali kenapa mesti kembar? Istilah orang jawa kesundulan, udah gitu  ang nyundul kembar! Aku takut sekali kalau janinku cacat karena usahaku yang berkali-kali mengugurkannya. Akhirnya pasca itu aku mulai mau minum susu ibu hamil. Dan yang paling menyedihkan aku harus menghentikan pemberian ASI  untuk putriku ketika masih berusia 4 bulan. Suamiku terus memompakan semangat bahwa aku harus mencintai dan menjaga janinku. Aku masih tetap mengajar dan mengurangi porsi kelas agar tidak terlalu capek. Setiap kali berangkat mengajar aku selesaikan dulu semua tugasku untuk putriku. Dan mesti menyerahkan putriku pada pengasuhnya. Sebenarnya tidak tega sekali!Akhirnya menginjak usia kehamilan 6 bulan aku semakin capek. Kuputuskan untuk berhenti mengajar dan total menjadi ibu rumah tangga.
Jam demi jam kuhabiskan waktuku untuk keluarga. Mengurus rumah, mengasuh putriku dan janinku, tentunya juga melayani suami. Sampai akhirnya putra kembarku lahir. Resmilah aku ibu dengan tiga anak dimana bayi semua, putri pertamaku berusia 12 bulan dan putra kembarku berusia 1 bulan. Duuh..repotnya! Repot dan pasti capek sekali mengasuh 3 anak sekaligus yang masih bayi. Seorang ibu mesti menjaga putra-putrinya yang masih bayi 24 jam tanpa mengenal lelah. Tenyata aku lebih capek dan terasa bahwa tugas ini berat untuk menjadi ibu rumah tangga total jika dibandingkan menjadi dosen. Dan pilihan yang terbaik bagi keluargaku adalah aku menjadi ibu rumah tangga total.
Menjadi ibu rumah tangga bila dilihat hanya di rumah saja. Kelihatannya sepele dan ringan. Tetapi menjadi ibu rumah tangga total itu tugasnya berat terutama mengasuh dan mendidik anak-anak kita serta menjaga suami. Ibarat kapal suami kita itu kaptennya dan istri adalah nahkodanya yang mesti menjaga keselamatan seluruh awak kapal hingga selamat sampai tujuannya. Berat kan?? tenaga, pikiran, emosi, semuanya dilibatkan.
Kembali ke form, pekerjaan: ibu rumah tangga menurutku kalau menjadi ibu rumah tangga dianggap sama dengan pekerjaan menurutku tak adil?Karena lebih dari sekedar pekerjaan. Yang lebih menyebalkan lagi kadangkala di form-form yang lain pilihan pekerjaan ibu rumah tangga tidak tersedia mungkin tidak dianggap tidak bernilai ekonomi. Aduuh…jengkel juga sekecil itukah  enghargaan secara legal terhadap ibu rumah tangga karena dianggap tidak ekonomis?? padahal nilainya jauh tidak bisa diungkapkan dengan angka-angka!         

by Sari oktafiana

Categories: Article
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.